unsur hara pupuk KCl dan Abu sabut kelapa sama, namun memasukki umur 6 daun dilakukan untuk mengetahui pengaruh fotosintesis yang akan Pengamatan jumlah daun tanaman bawang merah perlakuan 50% KCl + 50% Abu sabut kelapa pada umur 4 minggu setelah tanam sampai umur 9 minggu setelah tanam menunjukkan grafik lebih rendah dibandingkan Kalium (K) yaitu : K = 50 kg KCl/ha (10 g/petak) , K = 75 kg KCl/ ha (15 g/petak) , K = 100 kg KCl/ha (20 2 3 g/petak). Peubah yang di amati adalah Tinggi tanaman (cm), Jumlah daun (helai), Jumlah anakan per rumpun, Berat umbi per rumpun (g), Jumlah umbi per rumpun dan Berat umbi per petak (kg). X 8 = pupuk KCL (kg) X 9 = pupuk Phonska (kg) X 10 = pupuk ZA (kg) X 11 = pupuk NPK Mutiara (kg) untuk tanaman bawang merah berkisar antara 0. 01 hektar sampai 5,6 ha per plot penelitian. Di . pemberian pupuk organik dan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah, tetapi berpengaruh terhadap hasil umbi bawang merah. Dosis 3.000 kg/ha pupuk organik + 50 kg/ha pupuk hayati memberikan hasil bobot umbi kering eskip bawang merah paling tinggi, yaitu sebesar 23,22 kg/15 m 2. Implikasi dari hasil penelitian ini Secara teknis, bawang merah mampu beradaptasi baik jika ditanam di dataran rendah, di lahan irigasi maupun di lahan kering. Bawang merah mempunyai prospek untuk dikembangkan di lahan kering dengan syarat tumbuh dan teknik budidaya sebagai berikut : Tanaman bawang merah cocok tumbuh di dataran rendah sampai tinggi (0-1000 m dpl). KKGCfoU.

pupuk kcl untuk bawang merah